Apa Saja 2 Jenis Aborsi? Medis dan Bedah

Apa saja 2 jenis aborsi? Kenali perbedaan aborsi medis dan bedah, cara kerja, pertimbangan metode, risiko, serta pentingnya pemeriksaan medis.

Dokter Kandunagn

9/29/20265 min read

Ketika membahas aborsi, salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apa saja 2 jenis aborsi dan apa yang membedakan keduanya. Secara umum, metode aborsi dapat dikelompokkan menjadi aborsi medis dan aborsi bedah. Keduanya memiliki cara kerja, proses penanganan, serta pertimbangan medis yang berbeda.

Aborsi medis menggunakan obat untuk mengakhiri kehamilan, sedangkan aborsi bedah dilakukan melalui prosedur medis untuk mengeluarkan jaringan kehamilan dari rahim. Pemilihan metode tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan keinginan pasien karena perlu mempertimbangkan usia kehamilan, kondisi kesehatan, hasil pemeriksaan, serta faktor klinis lainnya.

WHO menjelaskan bahwa aborsi dapat dilakukan dengan aman apabila menggunakan metode yang sesuai dengan usia kehamilan dan diberikan atau didukung oleh tenaga kesehatan dengan keterampilan yang diperlukan.

Apa Saja 2 Jenis Aborsi?

Secara sederhana, dua kelompok utama metode aborsi adalah:

  1. Aborsi medis, yaitu penghentian kehamilan menggunakan obat-obatan.

  2. Aborsi bedah, yaitu penghentian kehamilan melalui prosedur medis untuk mengeluarkan jaringan kehamilan dari rahim.

Meskipun sama-sama bertujuan mengakhiri kehamilan, keduanya tidak dilakukan dengan cara yang sama. Faktor seperti usia kehamilan dan kondisi pasien ikut menentukan metode yang dapat digunakan.

WHO dalam pedoman Abortion Care Guideline edisi kedua menjelaskan pilihan penanganan medis dan bedah, termasuk penggunaan obat, vacuum aspiration, dan dilatation and evacuation (D&E) sesuai kondisi klinis dan usia kehamilan.

Perbedaan Aborsi Medis dan Aborsi Bedah

AspekAborsi MedisAborsi BedahMetodeMenggunakan obatMenggunakan prosedur medisPrinsip tindakanObat memicu proses pengeluaran kehamilanJaringan kehamilan dikeluarkan melalui prosedurPemeriksaanDisesuaikan dengan kondisi pasienDisesuaikan dengan kondisi pasienPenentuan metodeMempertimbangkan usia kehamilan dan kondisi medisMempertimbangkan usia kehamilan dan kondisi medisPemantauanDilakukan sesuai kebutuhan klinisDilakukan selama dan setelah prosedur sesuai kebutuhan

Tabel tersebut memberikan gambaran umum. Dalam praktiknya, pilihan metode harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Apa Itu Aborsi Medis?

Aborsi medis merupakan metode penghentian kehamilan dengan menggunakan obat-obatan tertentu. Obat tersebut bekerja dengan memengaruhi proses hormonal dan menyebabkan kehamilan berakhir sehingga jaringan kehamilan dapat dikeluarkan dari rahim.

Jenis obat dan penggunaannya bergantung pada kondisi klinis serta usia kehamilan. WHO memiliki rekomendasi khusus mengenai penggunaan obat untuk aborsi medis dan memperbaruinya dalam pedoman edisi kedua pada 2025.

Pada kehamilan awal, aborsi medis dapat menjadi salah satu pilihan dalam pelayanan kesehatan. Namun, penggunaan obat tetap perlu memperhatikan kondisi medis dan akses terhadap informasi serta layanan kesehatan yang memadai.

Aborsi medis juga dapat menimbulkan keluhan seperti kram dan perdarahan. Sebagian kondisi dapat ditangani dengan pemantauan yang sesuai, tetapi komplikasi tertentu tetap membutuhkan pertolongan medis.

Karena itu, penggunaan obat yang tidak jelas asal-usulnya atau tanpa informasi medis yang memadai dapat meningkatkan risiko kesalahan penanganan.

Apa Itu Aborsi Bedah?

Aborsi bedah dilakukan melalui prosedur medis untuk mengeluarkan jaringan kehamilan dari rahim. Prosedur yang digunakan dapat berbeda sesuai usia kehamilan dan kondisi pasien.

Salah satu metode yang digunakan pada kehamilan tertentu adalah vacuum aspiration, yaitu penggunaan tekanan vakum untuk mengeluarkan isi rahim. WHO merekomendasikan vacuum aspiration untuk aborsi bedah pada usia kehamilan kurang dari 14 minggu.

Pada usia kehamilan yang lebih lanjut, dilatation and evacuation (D&E) dapat digunakan sesuai indikasi klinis. Dalam pedoman WHO, D&E direkomendasikan untuk aborsi bedah pada usia kehamilan 14 minggu atau lebih.

Hal ini menunjukkan bahwa istilah "aborsi bedah" tidak merujuk pada satu prosedur saja. Jenis tindakan ditentukan berdasarkan kondisi klinis dan usia kehamilan.

Perlu diperhatikan pula bahwa istilah Klinik kuret Medical sering digunakan secara umum oleh masyarakat untuk berbagai tindakan pada rahim. Dalam pedoman WHO, untuk aborsi bedah di bawah 14 minggu, vacuum aspiration direkomendasikan dan WHO merekomendasikan agar dilatasi dan kuretase tajam (sharp D&C) tidak digunakan sebagai metode tersebut.

Apa Perbedaan Aborsi Medis dan Aborsi Bedah?

Perbedaan paling mendasar terletak pada cara penghentian kehamilan.

Pada aborsi medis, obat digunakan untuk memicu proses yang menyebabkan jaringan kehamilan keluar dari rahim. Sementara itu, aborsi bedah menggunakan prosedur medis untuk mengeluarkan jaringan kehamilan.

Perbedaan tersebut juga membuat pengalaman setiap pasien dapat berbeda. Aborsi medis umumnya melibatkan proses biologis yang berlangsung setelah penggunaan obat, sedangkan aborsi bedah dilakukan melalui prosedur yang dikerjakan dalam layanan kesehatan.

Namun, tidak tepat jika salah satu metode dianggap selalu lebih sesuai untuk semua orang. Faktor medis harus menjadi pertimbangan utama.

Bagaimana Dokter Menentukan Metode yang Sesuai?

Penentuan metode tidak hanya berdasarkan jenis tindakan yang tersedia. Dokter perlu mempertimbangkan beberapa informasi mengenai kondisi pasien.

Beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan antara lain:

  • usia kehamilan;

  • kondisi kesehatan secara keseluruhan;

  • riwayat kesehatan tertentu;

  • hasil pemeriksaan;

  • kemungkinan faktor risiko atau kontraindikasi;

  • kebutuhan dan kondisi klinis pasien;

  • metode yang tersedia di fasilitas kesehatan.

Usia kehamilan menjadi salah satu faktor penting karena pilihan metode medis maupun bedah dapat berbeda pada tahap kehamilan yang berbeda. Pedoman WHO juga memberikan rekomendasi metode berdasarkan usia kehamilan.

Karena itu, informasi dari internet tidak dapat digunakan untuk menentukan sendiri metode yang paling sesuai untuk seseorang.

Mengapa Pemeriksaan Sebelum Tindakan Penting?

Pemeriksaan sebelum tindakan membantu tenaga kesehatan mendapatkan informasi yang diperlukan untuk menentukan penanganan.

Evaluasi dapat mencakup penilaian usia kehamilan dan kondisi kesehatan, serta pemeriksaan lain apabila terdapat indikasi. Informasi tersebut membantu tenaga kesehatan menentukan apakah suatu metode sesuai atau diperlukan penanganan berbeda.

Pemeriksaan juga penting untuk mengenali kondisi yang mungkin membutuhkan perhatian medis lebih lanjut.

Dengan pemeriksaan yang tepat, rencana penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi pasien, bukan hanya berdasarkan perkiraan usia kehamilan atau informasi yang ditemukan secara daring.

Apakah Aborsi Medis dan Aborsi Bedah Aman?

Keamanan tidak hanya ditentukan oleh nama metode. WHO menyatakan bahwa Klinik aborsi merupakan intervensi kesehatan yang sangat aman apabila dilakukan menggunakan metode yang direkomendasikan, sesuai usia kehamilan, dan oleh orang yang memiliki keterampilan yang diperlukan.

Sebaliknya, tindakan yang dilakukan dalam kondisi tidak memenuhi standar medis dapat meningkatkan risiko komplikasi. WHO mencatat bahwa aborsi yang tidak aman dapat menyebabkan perdarahan, infeksi, dan cedera pada saluran genital atau organ dalam.

Karena itu, penting untuk membedakan antara metode medis yang dilakukan dalam kerangka pelayanan yang tepat dengan penggunaan obat atau tindakan tanpa informasi dan dukungan medis yang memadai.

Apa Saja Risiko yang Perlu Diketahui?

Setiap tindakan medis memiliki risiko, dan tingkat risikonya dapat dipengaruhi oleh metode yang digunakan, usia kehamilan, kondisi kesehatan, serta kualitas pelayanan.

Keluhan yang dapat muncul setelah aborsi antara lain perdarahan dan kram. Pada sebagian kasus, dapat terjadi komplikasi seperti infeksi atau jaringan kehamilan yang masih tersisa sehingga membutuhkan evaluasi dan penanganan lebih lanjut.

Risiko juga tidak sama pada setiap orang. Karena itu, tenaga kesehatan perlu memberikan informasi mengenai kondisi yang perlu diperhatikan setelah tindakan.

Jika muncul keluhan berat atau kondisi yang mengkhawatirkan, pasien sebaiknya segera mendapatkan pertolongan medis.

Apa yang Perlu Diperhatikan Setelah Tindakan?

Perawatan setelah aborsi merupakan bagian penting dari pelayanan kesehatan. Setelah tindakan, pasien perlu mengikuti arahan tenaga kesehatan mengenai pemantauan dan kontrol apabila diperlukan.

Perhatikan perubahan kondisi tubuh dan jangan mengabaikan keluhan yang terasa tidak biasa. Bila muncul perdarahan yang mengkhawatirkan, demam, nyeri berat, atau gejala lain yang membutuhkan penanganan, segera cari pertolongan medis.

Konsultasi setelah tindakan juga dapat menjadi kesempatan untuk membahas kesehatan reproduksi, kontrasepsi, atau kebutuhan medis lain sesuai kondisi pasien.

Kapan Harus Segera Mendapatkan Pertolongan Medis?

Setelah tindakan, seseorang perlu mendapatkan bantuan medis apabila mengalami kondisi yang mengkhawatirkan, terutama jika terdapat perdarahan berat, nyeri yang semakin berat, demam, pingsan, atau tanda infeksi.

Jangan menunggu terlalu lama ketika kondisi tubuh memburuk. Penanganan lebih cepat dapat membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi penyebab keluhan dan memberikan perawatan yang diperlukan.

Kesimpulan

Jadi, apa saja 2 jenis aborsi? Secara umum, terdapat dua kelompok metode yang perlu dikenal, yaitu aborsi medis dan aborsi bedah.

Aborsi medis menggunakan obat untuk mengakhiri kehamilan, sedangkan aborsi bedah menggunakan prosedur medis untuk mengeluarkan jaringan kehamilan. Keduanya memiliki karakteristik dan pertimbangan klinis yang berbeda.

Pemilihan metode tidak seharusnya dilakukan hanya berdasarkan informasi umum di internet. Usia kehamilan, kondisi kesehatan, hasil pemeriksaan, dan faktor klinis lainnya perlu dipertimbangkan sebelum menentukan penanganan.

Informasi kesehatan yang akurat dan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dapat membantu memastikan bahwa pilihan penanganan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

FAQ

Apa saja 2 jenis aborsi?

Secara umum, metode aborsi dapat dikelompokkan menjadi aborsi medis dan aborsi bedah. Aborsi medis menggunakan obat, sedangkan aborsi bedah menggunakan prosedur medis untuk mengeluarkan jaringan kehamilan.

Apa perbedaan aborsi medis dan aborsi bedah?

Perbedaan utamanya terletak pada cara tindakan dilakukan. Aborsi medis menggunakan obat, sedangkan aborsi bedah dilakukan melalui prosedur medis. Pemilihan metode dipengaruhi oleh usia kehamilan dan kondisi klinis.

Apakah semua orang dapat menggunakan aborsi medis?

Tidak semua kondisi dapat ditangani dengan cara yang sama. Kesesuaian metode perlu dinilai berdasarkan usia kehamilan, kondisi kesehatan, dan faktor medis lainnya.

Apa itu vacuum aspiration?

Vacuum aspiration adalah salah satu Metode Vakum Aspirasi bedah yang menggunakan tekanan vakum untuk mengeluarkan jaringan dari rahim. WHO merekomendasikan metode ini untuk aborsi bedah pada usia kehamilan kurang dari 14 minggu.

Apa itu D&E?

D&E atau dilatation and evacuation merupakan prosedur aborsi bedah yang digunakan pada usia kehamilan tertentu. Dalam pedoman WHO, D&E direkomendasikan untuk aborsi bedah pada usia kehamilan 14 minggu atau lebih.

Apakah perlu pemeriksaan sebelum tindakan?

Pemeriksaan membantu tenaga kesehatan mengetahui kondisi kehamilan dan kesehatan pasien sehingga metode penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi klinis.